in

Jalan-Jalan Ke Kota Biru Chefchouen Maroko

CHEFCHOUEN MAROKO

 CHEFCHOUEN MAROKO

Maroko adalah sebuah kota di Afrika Utara yang identik dengan jejak sejarah peradaban bangsa Arab, Spanyol dan Perancis. Bangsa yang pernah menduduki Maroko ini kemudian meninggalkan warisan berupa keindahan kota dengan arsitektur mediterania. Kota pertama yang wajib di kunjungi jika jalan-jalan ke Maroko adalah kota Chefchouen.

Chefchouen terletak di lembah pegunungan Rif, tepatnya di sebelah barat laut Maroko. Uniknya semua rumah di kota ini dicat berwarna biru terang. Bukan karena kompak, namun warna biru dianggap sebagai warna suci. Ini adalah peninggalan adat masyarakat yang merupakan keturunan yahudi. Dahulunya chefchouen dihuni oleh bangsa yahudi yang bersembunyi dari kejaran bangsa Spanyol. Berfoto dengan latar belakang semua biru sungguh instagramable. Mobil dilarang melintasi kawasan rumah, sehingga wisatawan bebas berjalan kaki disini.

Masyarakat Chefchouen berbicara dalam Bahasa arab, spanyol dan perancis. Namun karena lama dijajah bangsa Spanyo, mereka lebih fasil berbicara dalam Bahasa arab dan spanyol. Selain bangunan rumahnya yang unik, cara berpakaian laki-laki dewasa disini juga unik. Sehari harinya mereka biasanya menggunakan baju jubah yang disebut dengan jellaba. Jellaba berupa baju jubah panjang ini sehari-harinya digunakan untuk melindungi tubuh dari udara dingin yang menusuk dan angin yang kencang. Jellaba dilengkapi dengan topi pocong.

Saat dikenakan di kepala, bagian atas topi pocong dilipat sedikit keatas. Ini adalah ciri khas pemakaian jellaba. Dulunya jellaba digunakan sebagai pakaian perang, namun sekarang digunakan sebagai pakaian sehari-hari termasuk saat ke masjid. Jellaba dibuat dengan menggunakan mesin tenun tradisional dari kayu. Baju jubah khas Chefchouen ini masuk daftar oleh-oleh yang wajib dibawa saat pulang ke tanah air.

Pasar tradisional adalah tempat yang wajib didatangi. Disini mudah ditemukan barang-barang yang terbuat dari wol, pakaian, tenun dan keju kambing yang sangat terkenal. Di pasar tradisional dijual serbuk biru yang digunakan untuk mengecat rumah penduduk. Sekali setahun penduduk membeli bubuk biru ini untuk mengecat kembali rumahnya dengan warna yang sama sehingga tampak lebih cerah. Saat Ramadhan tiba, kota ini terlihat seperti kota mati, karena tidak ada orang yang lalu lalang. Saat Ramadhan kebanyakan masyarakat chefhouen memilih berdiam di rumah.

Written by Dee

Comments

Leave a Reply

Loading…

0
liburan ke tokyo

Tips dan Trik Liburan di Tokyo Disneyland

kastil predjma

Indahnya Kastil Predjama di Slovenia